NABIGHAH ZIBYANI - Tokoh Sastra Arab Jahiliyah

    

Nama asli penyair ini Abu Umamah Ziyad Ibn Muawiyah. Namun dia dia lebih dikenal dengan panggilan nabighah sebab sejak muda pandai berpuisi. Penyair ini sangat dicintai oleh kabilahnya. Ia selalu mendekatkan dirinya dengan raja-raja dan orang-orang besar. Dan menjadikan puisinya sebagai alat yang paling ampuh untuk mendapatkan kedudukan dan kekkayaan. Oleh karean itulah penyair ini sering dihasut oleh lawannya.

      Sebagian besar ahli sastra arab menundukkan puisi karya Nabighah pada deretan ketiga sesudah Imru’ul Qais dan Zuhair IbnAbi Sulma. Hanya saja penilaian ini sangat relative sekali, karena setiap orang mempunyai pendiriran masing-masing. Namun walaupun demikian karya puisinya sangat tinggi nilainya, karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam berpuisi.

         Oleh sebab itu penyair ini tidak heran jika diangkat sebagai deawan juri dalam loba pembacaan piusi setiap tahun dai pasar Ukaz.

         Keistimewaan penyair ini bila dibaningkan dengan kedua penyair sebelumnya, maka puisi Nabighah lebih indah dan kata-katanya lebih mantab, bahasanya sederhana sehingga dapat dimengrti oleh semua orang. Para penyairpun tidak jarang meniru cara Nabighah maupun kata-katanya.[1]

Di antara puisinya yang paling indah adalah yang terdapat di dalam mu’allaqat-nya berbunyi:

 

عوجوا فحيوا لنعم دمنة الدار  ¤  ماذا تحيون لوى وأحجار

 

أقوى وأقفز من نعم وغيره  ¤ هوج الرياح بهلبى الترب موار

 

وقفت فيها سراة اليوم أسألها  ¤ عن آل نعم أمونا عبر أسفار

 

فاستعجمت دار نعم ما تكلمنا  ¤  والدار لو كلمنا ذات أخبار

 

“Berhentilah kalian untuk menyapa, menyalami, sungguh indah reruntuhan perkampungan, apa yang kalian salami adalah timbunan tanah dan bebatuan”

 

“Tanah lenggang, sepi dari binatang liar, dan telah diubah oleh hembusan badai serta hujan yang datang dan pergi”

 

“Aku berdiri di atasnya, ditengah reruntuhan dan bertanya kepadanya tentang serombongan unta yang biasa lewat di sana”

 

“Reruntuhan rumah yang indah , demikian asing, membisu tak mau berbicara pada kami, dan reruntuhan rumah itu, andai ia mau berbicara pada kami, pasti ia punya banyak cerita”

 



[1] Makalah Tokoh-tokoh Sastra Jahiliyah, http://arinaistiqomah.blogspot.com/2012/11/makalah-tokoh-tokoh-sastra-jahiliyah.html Di Akses pada 10 November 2021, Pukul 14.22 Wib

Komentar

Postingan Populer