Puisi Masa Kebangkitan
1. Ceritakan bagaimana Puisi Arab sebelum kedatangan Perancis?
Jawaban :
Kebudayaan dan peradaban Arab hidup
berdampingan, dan penulis Arab mewarnai peradaban manusia, keterampilan sastra,
dan keterampilan khas. Peradaban terkait dengan istilah kolektif untuk
menunjukkan keadaan masyarakat yang beradab (Weintraub, 1969: 27). Masyarakat
Arab dapat menciptakan budaya yang merefleksikan budaya dalam produk budayanya,
yang mewadahi karya sastra dalam bentuk puisi, prosa, dan drama. Sastra Arab
telah meninggalkan jejaknya pada awal era puisi tradisional Romawi (Cantarino,
1975). Puisi Arab terlihat sangat liris dan memiliki lebih banyak fungsi sosial
daripada individu, terutama Kabila, yang berasal dari bidang penyair. Kita
dapat melihat irama dan pantun dalam puisi bahasa Arab, yang dengan jelas
membuktikan betapa pentingnya pola bunyi puisi bahasa Arab, apalagi bahasa yang
digunakan dalam puisi merupakan bahasa khusus yang berbeda dengan bahasa biasa
(Scholes, 1977: 22) Kalimat dalam bahasa Arab puisi biasanya dibagi menjadi dua
bagian, dalam bahasa Metlon yang bermakna, pada awal penciptaan puisi,
khususnya di Casida, pola ritmik biasanya diadopsi. Kasidah tidak seperti Qith
yang sangat panjang, ia memiliki struktur tersendiri. Sebelum era Islam,
kebanyakan puisi yang disebut Mu'Allaqdt ditulis dengan model Kasida. Penulis
meyakini bahwa awal Idul Fitri biasanya dengan kata takdir, makna takdir
terkait dengan cinta dan kasih sayang, atau untuk beribadah. Penyair mengakhiri
puisinya dengan pujian, dan pada saat yang sama, ia mengejek atau mengejek
musuh atau musuh suku (Badawi, 1975:3). Pada zaman Umayyah, rumusan takdir ini
masih digunakan para penyair Arab karena dianggap sebagai ciri puisi Arab, yang
mengutamakan ekspresi emosi yang dalam dan jujur (Zaydan, 1996: 252).
2. Ceritakan bagaimana puisi Arab bangkit?
Jawaban :
Di era Arab-Islam, puisi Arab menjadi basis
utama dan dianggap sebagai basis aturan puisi. Dari perspektif ritme, hampir
semua orang mengacu pada periode ini. Pola puisi yang umum pada waktu itu
adalah puisi setinggi 16 meter, berstruktur terhubung, tidak berima, dan hanya
digunakan dalam puisi serius. Hal yang sama berlaku untuk satu irama (monorhym).
Namun pada masa itu masih sedikit inovasi, terutama di kawasan Grand Slam
Spanyol abad ke-11, di mana terdapat model puisi strophicataustanzaic, yang
oleh orang disebut muwashshah. Kebanyakan penyair menyukai puisi yang penuh
cinta dan kasih sayang, gaya ini berlanjut hingga awal abad ke-20. Genre yang
sering ditulis sebagai puisi pra-Islam adalah: pujian (fakhr), madich, sindiran
(hija '), elegi (ritsd'), uraian (wash /) dan puisi cinta (ghazal). Puisi
keagamaan atau puisi pertapa (zuhd) merupakan pengecualian, padahal banyak
puisi tentang Islam seperti Ka'abbin Zuhar (Ka'abbin Zuhayr) yang ditulis pada
periode awal dan awal Islam (Badawi, 1975:3).
Daftar Pustaka Pretest 2 :
Diakses dari : https://repository.ugm.ac.id/33018/1/9._SEJARAH_PERKEMBANGAN_KESUSASTRAAN_ARAB_KLASIK_DAN_MODERN-Fadlil.pdf
Komentar
Posting Komentar