MUSTAFA LUTFI AL-MANFALUTI - Tokoh Sastra Mesir

        Al-Manfalūṭī adalah seorang sastrawan dan penyair modern Mesir. Ia dikenal dengan penggunaan gaya bahasanya yang unik dalam karya-karya dan buku-bukunya. Karier cemerlangnya bermula pada tahun 1907 M di mana saat itu ia rutin menerbitkan artikel-artikel dan puisi-puisinya di Majalah al-Mu’ayyad setiap minggu. Kompilasi artikel dan puisinya tersebut diberi judul al-Naẓarāt (Renungan-renungan).

Al-Manfalūṭī banyak menyadur karya-karya sastrawan asing, seperti salah satu novelnya yang berjudul al-Syā’ir (Sang Penyair) yang merupakan saduran dari karya seorang sastrawan Prancis, Edmund Rustau.

Selain menyadur karya-karya sastrawan asing, al-Manfalūṭī juga banyak menerjemahkan dan menovelkan drama dari bahasa Prancis, termasuk beberapa cerita pendek. Konon, ia sendiri tidak dapat membaca atau berbicara dalam bahasa Prancis. Ia meminta beberapa orang yang ahli berbahasa Prancis untuk menerjemahkan beberapa buku ke dalam bahasa Arab, untuk kemudian ia tulis ulang dengan gaya penulisannya yang khas.

Nama lengkap al-Manfalūṭī adalah Muṣṭafā Luṭfī bin Muḥammad Luṭfī bin Muḥammad Ḥasan Luṭfī al-Manfalūṭī. Ia dilahirkan pada tanggal 30 Desember 1876 di Manfalūṭ. Manfalūṭ adalah salah satu kota di Mesir yang terletak di tepi barat Sungai Nil, berada dalam wilayah Provinsi Asyūṭ.

Al-Manfalūṭī tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang mapan dan terhormat. Diketahui, nasabnya bersambung hingga Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang saleh, bertakwa, dan berintelektual. Tak heran keluarganya sudah turun temurun dipercaya memangku jabatan sebagai Qaḍā’ Syar’i (hakim) selama 200 tahun. Ayahnya, Muḥammad Luṭfī al-Manfalūṭī, juga seorang hakim dan pemuka yang terhormat di kalangan kaumnya.

Muṣṭafā Luṭfī al-Manfalūṭī memulai jenjang pendidikannya di kuttab kampungnya sebagaimana tradisi yang berlaku di Mesir saat itu. Kuttab adalah sejenis tempat belajar yang berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak.

Sebelum berusia dua belas tahun, ia diketahui telah hafal Al-Qur’an seluruhnya. Di kuttab, al-Manfalūṭī  belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu fikih.

Setelah itu, al-Manfalūṭī melanjutkan pendidikannya di al-Azhar. Selama sepuluh tahun menimba ilmu di sana, al-Manfalūṭī telah mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan, terutama ilmu fikih, ilmu bahasa, dan ilmu sastra.

Al-Manfalūṭī memiliki hasrat yang begitu besar dalam mempelajari ilmu. Ia menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sastra, sastrawan, dan puisi. Kecenderungannya akan hal-hal tersebut mulai tampak dengan cepat. Ia pun menggubah puisi dan membuat artikel-artikel dengan gaya bahasanya yang sangat bagus. 

Nama dan reputasi al-Manfalūṭī  semakin terkenal karena keakrabannya dengan  Syekh Muḥammad ‘Abduh di mana saat itu al-Manfalūṭī mendapat kesempatan belajar di bawah bimbingan beliau.

Al-Manfalūṭī termasuk salah satu murid Syekh Muḥammad ‘Abduh yang paling mahir di antara murid lainnya. Karena keakraban di antara keduanya, tumbuhlah kasih sayang antara seorang guru dan murid. Muḥammad ‘Abduh sangat mencurahkan perhatiannya kepada al-Manfalūṭī dan mengarahkannya ke jalan kehidupan dan kesusastraan yang tepat.

Setelah wafatnya Muhammad Abduh, al-Manfalūṭī kembali ke kampung halamannya dan mendedikasikan waktu selama dua tahun untuk mempelajari kitab-kitab sastra klasik. Sehingga, dalam bersastra, al-Manfalūṭī dipengaruhi oleh Ibn Khaldūn, al-Mutanabbi, al-Jāḥiẓ, Abū al-A’lā al-Ma’arri, Ibn al-Muqaffa’, Abū Tammām, al-Buḥturi, Muḥammad ‘Abduh, ‘Ali bin al-Aṡīr, dan Muḥammad bin al-Ḥusain Ṣarīf al-Raḍī.

Al-Manfalūṭī mempunyai berbagai karya sastra yang sangat banyak. Berbagai pendapat dan tanggapan bermunculan menyambutnya dan ia pun menjadi pusat perhatian dan penelitian. Semua itu sebagai bukti bahwa karya-karyanya tercipta dari sebuah kematangan intelektual dan merupakan ungkapan yang terlahir dari sebuah bakat yang murni. Karya-karyanya menjadi saksi kebesaran dan kemampuannya.

Karya-karya al-Manfalūṭī banyak mengangkat masalah-masalah sosial kemasyarakatan seperti kebodohan, kesengsaraan, kepedihan, dan dekadensi moral. Karya-karyanya tercipta karena melihat keadaan Mesir yang pada waktu itu dijajah oleh Inggris.

Pada mulanya, al-Manfalūṭī memulai karier sastranya dengan menerbitkan karya-karyanya sehingga sampai kepada khalayak lewat beberapa media massa lokal seperti majalah-majalah al-Falāḥ, al-Hilāl, al-Jāmi’ah, al-‘Umdah, dan lain-lain. Kemudian pada tahun 1907 M ia menerbitkan artikel-artikelnya secara rutin lewat media terbesar saat itu, yaitu majalah al-Mu’ayyad.

Artikel-artikelnya tersebut kemudian dikompilasi menjadi buku berjudul al-Usbū’iyyāt yang kemudian berganti menjadi al-Naẓarāt. Buku tersebut dicetak dengan judul yang sama sebanyak tiga juz. Juz pertama dicetak pada tahun 1910 M, juz kedua pada tahun 1912 M, dan juz terakhir dicetak delapan tahun kemudian yaitu tahun 1920 M.

Pada tahun 1912 M, al-Manfalūṭī juga menerbitkan kompilasi puisi-puisi romantisnya dengan judul Mukhtārāt al-Manfalūṭī. Pada tahun 1915 M, ia menerbitkan kisah bersambung dengan judul al-‘Abarāt. Buku ini merupakan kumpulan kisah-kisah bertema edukasi. Di antara kisah-kisah tersebut ada yang merupakan murni karyanya sendiri dan ada juga yang merupakan hasil saduran dari bahasa Prancis. Kebanyakan kisah-kisah tersebut bernuansa sedih. Buku ini sudah dicetak berulang kali.

Al-Manfalūṭī meninggal dunia setelah sesaat menderita karena sakit. Ia mengalami kelumpuhan ringan selama dua bulan sebelum kematiannya. Hal itu menyebabkan lidahnya kelu selama beberapa hari. Namun al-Manfalūṭī tak mengabarkan kondisinya tersebut kepada seorang pun kerabatnya dan menyembunyikan penyakitnya. Ia juga tak memeriksakan dirinya ke dokter karena ia tak mempercayai para dokter.

Sikap al-Manfalūṭī yang terlalu menganggap remeh kondisinya itulah yang mungkin membuatnya keracunan urine, yang kemudian menyebabkan kematiannya. Ia wafat setelah semalaman terjaga dan ditemani sebagian kerabat dan teman-temannya dari kalangan sastrawan, pemusik, dan politikus.

Ia berpulang kembali kepada Sang Pencipta di pagi hari Iduladha pada tahun 1924 M. Setelah kepergiannya, sebagian penyair negeri Arab pun membuat syair ratapan atas kematian al-Manfalūṭī, di antaranya Aḥmad Syauqi dan Ḥāfiẓ Ibrāhīm.


Sumber : www.studiarabia.com/2021/03/biografi-mustafa-lutfi-al-manfaluti.html

Komentar

Postingan Populer